Latest Post

Islamic Worldview dan Peradaban Islam

Written By NeoBee on 26 March, 2017 | 9:38 AM

Dengan merealisasikan Islam worldview, mudah-mudahan akan melahirkan semangat dalam mengembangkan ilmu pengetahuan Islam yang berbuah kedamaian, kesejahteraan dan peradaban Islam 

KENAPA negara Islam sekarang pudar eksistensinya dalam skala ilmu pengetahuan dunia? Padahal Islam adalah suatu ajaran yang sangat konsen dan menyeru umatnya untuk mencari ilmu, megangkat derajat orang yang beriman dan yang memiliki ilmu pengetahuan (QS. Al-Mujadalah: 11).

Dengan ilmu pula manusia (Nabi Adam ‘Alaihissalam) lebih mulia dan tinggi derajatnya dari pada makhluk lain tak terkecuali malaikat sekalipun. Lalu dimanakah letak kemuliaan itu sekarang, Ironisnya, dewasa ini yang terjadi pada umat Islam di seantero bumi sana adalah penyerangan, pembantaian umat, pertikaian antar ideologi notabennya juga dalam tubuh umat Islam sendiri dan pada akhirnya melahirkan peperangan dalam satu aqidah. Sekali lagi, dimanakah letak “Kewibaan umat Islam ?”

Negara Islam hari ini jika boleh dikatakan seperti anak ayam yang kehilangan Induknya, walaupun sebagian ahli berpendapat kemunduran umat Islam dikarenakan banyak faktor diantaranya; ada faktor eksternal dan internal, namun faktor tersebut tidak penulis bahas disini. Karena yang harus dipahami oleh umat Islam sekarang adalah bagaimana caranya memulai dan membangkitakan kembali marwah Islam kepentas dunia, yaitu dengan mengusung trilogi; mencipta kedamaian umat, memberikan kesejahteraan dan melahirkan peradaban.

Kondisi ini menggiring kita yang satu aqidah turut berduka dan ikut mencari solusi, apa yang salah dengan Islam sekarang hingga bisa terjadi hal-hal yang disebutkan di atas. Menurut Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, kondisi ini terjadi antara lain, karena ketegangan sosial atau kekacauan politik, ekonomi, pendidikan, budaya dan lain sebagainya. Artinya Pembangunan Ilmu Pengetahuan Islam dalam melahirkan masyarakat yang sehat dan beradab sedang dalam masalah.  Terus sebenarnya siapa yang salah, apakah konsep Islam, ataukah orang Islam yang mungkin sudah jauh dan keliru dalam memahami Islam yang sebenarnya. 

Konsep Islam
Dalam Hal ini penulis ingin mengulas kembali pemikiran Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, seorang cendikiawan muslim Indonesia yang menaruh perhatian terhadap belantika pemikiran dan peradaban Islam. Sebelumnya, Penulis ingin memulai dengan ungkapan seorang Ilmuwan besar dunia Albert Einstein “Ilmu tanpa agama buta, Agama tanpa Ilmu lumpuh”.

Artinya agama dan Ilmu seperti salah satu sisi mata uang yang saling mengikat dan memberi makna, hubungannya tak saling terpisahkkan, ia tereduksi dalam “konsep Islam”. Dalam Islam tidak dikenal pemisahan antara agama dan ilmu pengetahuan. Karena agama dalam Islam bersumber dari wahyu (al Quran) yang berbicara tentang ilmu dan kebermanfaatan ilmu kepada manusia. Agama Islam memberi label kepada manusia sebagai khalifah fil ardh (perwakilan Tuhan) dibumi, bumi yang harus dikelola dengan baik dan dapat memberikan kesejahteraan kepada alam sendiri dan kepada sesama manusia.

Meskipun petunjuk hidup (Al Quran) telah diwahyukan, namun dewasa ini kemauan untuk mempelajari kandungan Alquran secara mendalam dan kritis miris sangat kurang, hal ini dapat kita lihat apakah disekolah maupun diperguruan tinggi. Akibatnya kekacauan negara-negara Islam sekarang adalah karena telah meninggalkan Al Quran (agama Islam).

Posisi Ilmu Pengetahuan Islam
Padahal jika kita lihat secara historis, perkembangan ilmu pengetahuan yang berperadaban di Jazirah Arab (Kekhalifahan Bani Umayyah I 661-750 M dan Abbasiyah 750-1258 M) dan Eropa, (Umayyah II 929-1031 M dan Kekhalifahan Turki Ustmani 1453-1924 M) adalah dengan menginternali sasikan nilai-nilai agama dalam setiap aktifitas kehidupan sehingga peradaban Islam muncul kepentas dunia. Sebab agama dalam Islam bisa melahirkan ilmu dan ilmu bisa melahirkan peradaban.

Maksudnya penerapan dari nilai-nilai agama dikejawantahkan dalam kehidupan (Ilmu) atau komunitas masyarakat hingga melahirkan tradisi keilmuan. Wahai para pembaca yang budiman, agama di sini jangan dipahami secara sempit yang hanya berkutat pada ibadah-ibadah pribadi tapi pahamilah agama Islam secara betul dan universal yang pernah dibawa dan disampaikan oleh baginda Nabi.
Hakikat dari disiplin ilmu menurut Imam Ghazali terklasifikasi dalam dua bagian yaitu Ilmu Ainiyah (fikih, tauhid, tasawuf; baca penjelasan ulama) dan kifayah (kedokteran, ekonomi, sains dan teknologi dan sebagainya) pembagian ini jangan dilihat secara dikotomis namun lihatlah sebagai kesatuan ilmu yang berasal dari Ilahi. Agama Islam masuk dalam segala sektor kehidupan, mulai dari masalah teologi, politik, sains, militer, ekonomi dan seterusnya dengan matarantai ilmu pengetahuan seperti ini sehingga terbentuklah peradaban dalam suatu komunitas, wilayah atau negara.

Agama dan Peradaban
Dalam salah satu karya Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi yaitu “Tamaddun Sebagai Konsep Peradaban Islam”,  ditulis bahwa peradaban Islam akan muncul kembali dengan menghadirkan agama Islam sebagai konsep Islam rahmatan lilalamiin dalam jiwa umat Islam, kenapa karena interpretasi agama dalam Islam (ad-Dinul Islam) adalah agama yang di dalamnya kaya dengan strategi, cara, aturan-aturan, pedoman, undang-undang, kenyamana, kejayaan dan peradaban.

Pengakuan Gutas bahwa peradaban Islam “disusun sesuai dengan agama yang diwahyukan kepada Muhammad”, Islam adalah bukti bahwa peradaban Islam disusun berdasarkan din Islam, dan karena itu sangat sesuai disebut sebagai peradaban. Di dalam peradaban itu terdapat kedamaian (Demitris Gutas, Greek Thought, Arabic Culture, 1988).

Ketika menjalankan agama Islam dengan benar dan universal maka akan  menciptakan peradaban yang dapat mensejahterakan penghuni pada tempat tersebut. Agama Islam adalah agama yang bersumber dari wahyu tuhan berisi anjuran, larangan dan pedoman kehidupan diwahyukan kepada nabi Muhammad dan pada akhirnya dikodifikasikan dalam bentuk kitab suci Alquran. Jadi Alquran itu adalah wahyu dari tuhan sebagai bentuk petunjuk dalam menjalankan kehidupan.

Secara Epistimologi isi dari alquran itu sendiri sangat kompleks dalam menginterpretasikan dunia dan akhirat, maka dari itu beragama Islam dalam arti yang benar adalah suatu keniscayaan dalam membina hidup dan bisa mengelola bumi ini dengan baik. Apabila umat Islam sudah jauh meninggalkan agama maka kehidupan akan kacau tak berarah, maka terjadilah ketimpangan-ketimpangan yang sebenarnya secara naluriyah tidak diinginkan oleh manusia.

Hal ini pernah diungkapkan oleh Ibnu Khaldun dalam bukunya Muqaddimah, “jika umat telah jauh dan meninggalkan agama maka akan timbul ketimpangan-ketimpangan dalam kehidupan akibatnya terjadilah pembunuhan, korupsi, perjudian, keserakahan dan perbuatan amoral lainya.”

Maka untuk menjawab tindakan amoral dan re-peradaban Islam, konsep yang ditawarkan oleh Hamid Fahmy Zarkasyi dan sama pula seperti gurunya Prof. Naquib Al Attas yaitu dengan kembali kepada Islam worldview.

Worldview adalah falsafah atau prinsip dalam berkehidupan dan asas bagi pemahamam realitas. Menurut Ilmuwan Muslim Syekh Atif al-Zayn, pandangan hidup Islam ada tiga macam 1) ia berasal dari wahyu Allah, 2) berdasarkan konsep din yang tidak terpisah dari negara, 3) kesatuan antara spiritual dan material (sosial, budaya, ekonomi) (Syekh Atif al-Zayn, al-Islam wa Idulujiyyat al-Insan, 1989). Berdasarkan pandangan Syekh Atif, bahwa Islam worldview/pandangan hidup Islam ini melibatkan aktifitas epistimologi manusia kepada Tuhan sebab ia merupakan faktor penting dalam aktifitas penalaran manusia baik pada sosial, realitas dan aktifitas ilmiah.

Islam Worldview
Maka hal yang paling utama yang harus diperhatikan dalam membangun peradaban umat adalah cara pandang terhadap Islam. Artinya pandangan umat Islam harus menggunakan pandangan atau cara berpikir yang berasas Islam, menghadirkan Islam dalam semua lini kehidupan baik Politik, Ekonomi, Pendidikan, Sains dan sektor-sektor lainnya. Sebab Islam yang bersumber dari Alquran membahas secara universal tentang politik. Tatanan pemerintahan yang sesuai agar bisa menjalankan syariat, bagaimana menata kehidupan yang baik dan wilayahnya bisa berdaulat dan bermartabat juga rakyatnya bisa sejahtera. Begitu juga pendidikan, ekonomi, budaya dan sebagainya. Semua itu diserahkan kepada umat Islam berdasarkan penjelasan orang yang ‘alim atau ulama sebagai orang yang lebih senior atau profesional dalam hal pengartian dan interpretasi makna-makna Alquran. Hal ini seperti yang berlaku diperguruan tinggi di mana para sarjana muda tentu merujuk kepada karya-karya ilmiah sang profesor yang menguasai secara mendalam disiplin ilmu masing-masing.

Mengubah Islam worldview/framework atau cara pandang umat kepada cara pandang Islam (prinsip Islam) adalah kunci bangkitnya peradaban Islam. Sebab peradaban itu muncul dari pandangan yang melahirkan tindakan dan berbuah Ilmu Pengetahuan. Hal ini sama ketika nabi berdakwah di Makkah, Hal pertama yang diperkenalkan nabi kepada umatnya ialah dengan memantapkan cara pandang kepada Allah, bertauhid yang benar, bagaimana beriman kepada hari kiamat, malaikat dan sebagainya. Singkatnya di awal periode Mekkah yang diajarkan nabi kepada umat adalah memposisikan cara pandang/berpikir yang benar tentang nilai-nilai teologi dan ketuhanan. Setelah mantap dengan worldview Islam kepada Tuhan dengan menghadirkan nilai-nilai  Ilahiyah dalam segala sektor kehidupan maka inilah awal dari kebangkitan keilmuan Islam dan peradaban.

Peradaban Islam adalah peradaban yang dibangun oleh ilmu pengetahuan Islam yang dihasilkan dari pandangan hidup Islam. Menurut Dr. Hamid, pemikiran yang berfungsi dalam kehidupan masyarakat adalah intelektual. Ia berfungsi sebagai individu yang bertanggung jawab terhadap ide dan pemikiran tersebut. Bahkan perubahan di masyarakat ditentukan oleh ide dan pemikiran para intelektual. Ini bukan sekedar teori tapi fakta yang terdapat dalam sejarah kebudayaan Barat dan Islam.

Di Barat ide-ide para pemikir, seperti Descartes, Karl Marx, Emmanuel Kant, Hegel, John Dewey, Adam Smith dan sebagainya adalah pemikir-pemikir yang menjadi rujukan dan merubah pemikiran masyarakat. Demikian pula dalam sejarah peradaban Islam, pemikiran para ulama seperti Imam Syafii, Hanbali, Imam al-Ghazzali, Ibn Khaldun, Ibn Rusy mempengaruhi cara berfikir masyarakat dan bahkan kehidupan mereka. Jadi membangun peradaban Islam harus dimulai dengan membangun pemikiran umat Islam, meskipun tidak berarti kita berhenti membangun bidang-bidang lain.
Artinya, pembangunan ilmu pengetahuan Islam yang berasas dari cara pandang Islam hendaknya dijadikan prioritas bagi seluruh gerakan Islam. Walhasil dengan merealisasikan Islam worldview dalam sanubari umat Islam, mudah-mudahan akan melahirkan semangat dalam mengembang kan ilmu pengetahuan Islam. Berbuah kedamaian, kesejahteraan dan peradaban Islam yang kita cita-citakan Amin. Waallahu ‘alam bishawab


Oleh: Fakhrurrazi

 
posted by @Adimin

Tsaqâfah Islam adalah Kunci Sukses Mengembalikan Kegemilangan Islam

Written By NeoBee on 24 March, 2017 | 1:58 PM

Kita wajib mendakwahkannya hingga seluruh manusia Muslim atau non mulim- merasakan rahmatnya Islam



ISLAM mendudukkan ilmu dan tsaqâfah pada kedudukan yang mulia. Tidak ada agama lain selain Islam yang sedemikian memperhatikan dan begitu memuliakan  persoalan ilmu dan tsaqâfah.

Islam menempatkan kewajiban mempelajari tsaqafah Islam sebagai sebuah ibadah yang setara dengan kewajiban yang lainnya. Dalam surat al-mujadilah ayat 3, Allah telah memberikan keutamaan bagi orang-orang yang memahami Islam dengan mendalam akan dinaikkan derajatnya.

Mereka yang berilmu juga disebut pewaris para nabi. Sebagaimana sabda manusia yang palingagung, “Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, sesungguhnya mereka hanyalah mewariskan ilmu, maka barangsiapa yang telah mengambilnya, maka ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. Abu Dawud & Tirmidzi).

Para nabi yang mulia tidaklah mewariskan sesuatu kepada ummatnya kecuali warisan yang paling berharga di dunia dan warisan yg paling dibutuhkan manusia. Dan warisan tersebut adalah ilmu tsaqâfah. Ini menunjukkan pada kita bahwa ilmu itu jauh lebih utama daripada harta. Dalam kitab madarijus salikin, Imam Ibnu Qoyyim saat menjelaskan bahwa tingkat kedermawanan tertinggi adalah memberikan ilmu.

Sedangkan tingkat kedermawanan terendah adalah dengan memerikan harta. Dengan ilmu manusia akan mengenal Allah, mengenal tujuan hidupnya, mengetahui baik-buruk dan dengan ilmu pula manusia dapat menyelesaikan problemnya. Dan pada hakikatnya, rasulullah saw diutus untuk menyampaikan –ilmu/ tsaqâfah – Islam. Yang beliau perjuangkan dengan segenap pikiran, tenaga, waktu hingga jiwanya hanyalah untuk membawa Islam. Membawa tsaqafah Islam dengan aqidahnya yang cemerlang, juga syariat Islamnya yang tertuang dalam al-quran dan as-sunnah. Dengannya, kehidupan manusia akan berada pada puncak kemuliaannya, pada limpahan rahmat dan berkah. Dan mencampakkannya pasti berujung pada derita dan masalah. Beliau membawa al-qur’an dan as-sunnah dengan melalui kehidupan yang berat. Berpeluh, bercucuran darah dan air mata, demi kehidupan yang baik bagi kita, ummatnya. Untuk kita ambil dan kita jadikan pegangan hidup. Untuk diadopsi dan dijadikan sebagai sumber solusi yang memudahkan hidup manusia. Itulah mengapa diberi kepahaman agama menjadi indicator seseorang mendapat kebaikan dari Allah.

Kaum Muslimin diwajibkan mempelajari tsaqâfah yang berkaitan dengan individunya sebagai fardhu ‘ain. Islam juga mewajibkan mempelajari tsaqâfah yang berkaitan dengan masyarakat dan ilmu  yang dibutuhkan masyarakat sebagai fardhu kifayah.

Tsaqâfah Islam yang didalamnya terdapat aspek aqidah mampu membangkitan manusia. Karena kebangkitan ummat tergantung pada pemikirannya. Pemikiran-pemikiran Islam bisa menjadikan orang yang memiliki tsaqâfahnya  mampu membentuk manusia menjadi pribadi yang memilik ‘aqliyah (pola pikir) yang memuaskan akal dan menentramkan jiwa. Terbentuk pula dalam dirinya nafsiyah Islamiyah (pola sikap yang Islam) yang dipenuhi dengan keimanan yang sempurna.

Dengan ‘aqliyah dan nafsiyah ini seseorang memiliki sifat yang mengagumkan/agung yang diinginkan oleh seorang Muslim. Karena itu dia menerjuni petualangan kehidupan dalam keadaan (mempunyai) bekal sebaik baik perbekalan, yaitu pemikiran yang cemerlang, takwa dan pengetahuan yang dapat menuntaskan segala problematika.

Tidak berhenti disitu, tsaqâfah Islam menjadi bagian dari ummat Islam, dimana diatasnya dibangun peradaban Islam. Tsaqâfah juga menentukan tujuan dan corak kehidupan ummat. Dengannya, pandangan hidup ummat yang terdiri dari berbagai suku, bangsa dan perbedaan dapat disatukan. Dan didalamnya juga terdapat aturan yang akan dapat menjaga aqidah, keamanan, harta, akal, jiwa, keturunan, kehormatan dan kedaulatan Negara Islam. Tsaqâfah suatu bangsa hakikatnya adalah keimanan (aqidah), hukum, solusi, sistem yang terpancar dari aqidah, ilmu pengetahuan yang dibangun diatas aqidah dan peristiwa apapun yang terkait dengan aqidah sebagai perjalanan dan sejarah umat.

Perhatian kekhilafahan terhadap tsaqâfah

Era kekhilafahan Islam pada masanya sangat memahami ketinggian possi ilmu dan tsaqâfah Islam dalam agama kita yang mulia. Oleh karenanya, Negara Islam yang dipimpin rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam dan para khulafa’ sesudah beliau sangat memperhatikan aspek yang berhubungan langsung dengannya, yakni pendidikan.

Di masa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassallam, beliau menetapkan kebijakan berupa penebusan bagi tahanan di Perang Badar untuk mengajar sepuluh orang Muslim membaca dan menulis. Rasulullah sebagai kepala negara mengirimkan para qurra’ untuk mengajarkan Islam kepada masyarakat, utamanya yang baru masuk Isalm. Rasulullah mengirim qurra’ terbaik tersebut ke seluruh penjuru jazirah Arab. [Hisyam Ibnu, Sirah An-Nabawiyah juz 2]

Pada masa Abu Bakar As-Shiddiq, masjid difungsikan sebagai tempat belajar, ibadah dan musyawarah. Kuttab, merupakan pendidikan yang dibentuk setelah masjid, didirikan pada masa Abu Bakar. Di masa belau pula, al-Qur’an al-kariim mulai dikumpulkan. Pada masa Kekhalifahan Umar bin Khattab, terdapat kebijakan pemberian gaji kepada para pengajar Al-Qur’an masing-masing sebesar 15 dinar.

Para khulafa’ berikutnya menyediakan pendidikan gratis dengan sarana dan prasarana yang bermutu, membangun banyak madrasah, jami’ah (universitas) dengan fasilitas terbaik untuk mendudkung kebutuhan pelajar termasuk asrama dan perpustakaan.

Madrasah al-Muntashiriah, misalnya, yang didirikan oleh Khalifah al-Muntashir Billah di Kota Baghdad. Di sekolah ini setiap siswa dijamin Kehidupan kesehariannya. Bahkan mereka menerima beasiswa berupa emas seharga satu dinar (4,25 gram emas) perbulan. Institusi pendidikan serupa juga dibangun dengan fasilitas lengkap dan gratis seperti Madrasah an-Nuriah, jami’ah Al-Azhar kairo dll.

Para khalifah juga membangun perpustakaan di banyak daerah di penjuru kekhilafahan, di Baghdad, Ram Hurmuz, Rayy (Raghes), Merv (daerah Khurasan), Bulkh, Bukhara, Ghazni, dan sebagainya. Tinta emas sejarah ini ditukis oleh Bloom dan Blair, yang mengakui bahwa rata-rata tingkat kemampuan literasi (membaca dan menulis) di Dunia Islam pada Abad Pertengahan lebih tinggi daripada Byzantium dan Eropa (Jonathan Bloom dan Sheila Blair, Islam : A Thousand Years of Faith and Power, Yale University Press, London, 2002).

Bahkan di setiap masjid terdapat perpustakaan. pada abad ke-10, di Andalusia saja saja terdapat 20 perpustakaan umum. Di Kairo,Perpustakaan Darul Hikmah mengoleksi tidak kurang dari 2 juta judul buku. Bahkan di Syam, Perpustakaan Umum Tripoli, mengoleksi lebih dari 3 juta judul buku, termasuk 50 ribu eksemplar al-Quran dan tafsirnya.

Jumlah koleksi buku di perpustakaan-perpustakaan ini termasuk yang terbesar pada zaman itu. Bandingkan dengan Perpustakaan Gereja Canterbury yang berdiri empat abad setelahnya, yang dalam catatan Chatolique Encyclopedia, perpustakaan tersebut memiliki tidak lebih dari 2 ribu judul buku saja.

Semua ini dilakukan demi menjaga tsaqofah Islam tetap terwariskan dengan baik kepada anak cucu dan generasi mendatang. Khilafah juga memproduksi mujtahid-mujtahid dan ulama-ulama berkualitas dan takut Allah secara massal. Para ulama tersebut juga penulis yang setiap orangnya mampu melahirkan ratusan judul kitab. Termasuk diantaranya kitab-kitab yang khusus membahas tuntas aspek ilmu baik dari segi keajiban dan keutamannya, adab-adabnya dan penjelasan tentang ulama seperti kitab Ta’lim al-Muta’lim fi Thoriiqi at-Ta’allum dan Ihya’ Ulumiddin,masterpiece Imam Ghazali yang fenomenal.

Saat melakukan jihad dan futuhat, kaum Muslim menaklukkan berbagai negara dalam rangka mengemban dakwah Islam kepada penduduknya. Karena itu kebanyakan para penakluk adalah dari golongan ulama, pembaca dan penulis. Hal ini bertujuan untuk mengajarkan tsaqâfahnya di negeri yang ditaklukkan. Walhasil, di setiap negeri yang ditaklukkan dibangun masjid untuk shalat dan belajar, baik bagi laki-laki, perempuan maupun anak-anak. Mereka mengajarkan kepada orang-orang mengenai al-Quran, hadits dan hukum-hukum Islam, mengajarkan mereka bahasa Arab, dan membatasi perhatian mereka dengan tsaqâfah Islam.

Wajar jika dalam waktu singkat–pada masa pemerintahan kaum Muslim- tsaqâfah lama hilang di negeri-negeri yang ditaklukkan. Tinggal tsaqâfah Islam saja yang menjadi tsaqâfah di setiap negeri tersebut, dan bahasa Arab saja sebagai bahasa Islam. Negeri-negeri yang ditaklukkan seluruhnya bergabung dengan negeri-negeri Arab menjadi negeri yang satu, yang sebelumnya merupakan negeri –negeri dan bangsa-bangsa yang berbeda-beda dan bercerai berai.  Islam menjadi satu-satunya kepemimpinan berfikir (qiyadah fikriyah) di seluruh Negara Islam.

Kehidupan warga di era khilafah Islam yang dilimpahi barakah ini terus berjalan hingga pada pertengahan abad ke 18 Masehi di masa Kekhilafahan Utsmani, ummat Islam mengalami kemerosotan yang mendalam. Bermula pada kejeniusan raja-raja Eropa, yang kewalahan mengahdapi tentara kaum Muslimin pada Perang Salib.

Dua ratus tahun lamanya, mencurahkan otak mengetur strategi, menguras harta hingga memajak rakyat demi membiayai perang suci, namun yang didapaat hanya kekalahan demi kekalahan. Maka sejak abad ke 13 Masehi mereka temukan rahasia kekuatan ummat Islam. Dan mereka bertekad menghancurkannya. Kekuatan Islam yang tak lain terletak pada tsaqâfah nya ; dalam aspek pemahaman dan penerapannya. Maka dirumuskanlah gaya perang baru, bukan lagi dengan perang fisik, tapi dengan gazwu ats-tsaqafiy ; perang tsaqafah atau perang budaya.

Mereka berupaya keras untuk menghapus tsaqâfah dari benak  dan kehidupan kaum Muslimin. Mereka juga berusaha menghilangkan tsaqâfah dari undang-undang hingga konstitusi kaum Muslimin.  Sejak saat itu, bahasa Arab mulai ditinggalkan dan diganti dengan Arab ‘ammiyah, bahasa daerah dan bahasa penjajah. Kemudian berlanjut dengan ditutupnya pintu ijtihad dan diambilnya tsaqâfah tsaqâfah asing seperti filsafat, demokrasi, feminisme dll, sehingga negera khilafah justru berdiri di atas tsaqâfah selain Islam. Hal ini merupakan keberhasilan scenario besar Barat dalam perang budaya (gazwu ats-tsaqafiy)  untuk meruntuhkan institusi daulah Islam.

Sejak zaman keruntuhan Negara pemersatu umat itulah, hingga saat ini kaum Muslimin diterpa berbagai persoalan hidup. Miskin harta, miskin iman, miskin ilmu dan miskin adab. Generasi muda umat ini tak luput dari sasaran pengrusakan. Narkoba, minuman keras hingga seks bebas mereka jadikan trend dan gaya hidup. Jika saat ini kita ingin mengembalikan Islam dan ummat Islam pada kejayaan peradabannya, jika kita ingin kembali hidup dalam kegemilangan generasinya, sudah sepatutnya kita kembali pada Islam. Memahami dengan baik tsaqâfah nya. Kemudian meyakininya sebagai satu-satunya pandangan hidup yang shahih. Kita juga wajib merujuk padanya saat memiliki persoalan individu atau keummatan. Serta mengamalkannya dalam seluruh lini kehidupan mulai tataran individu, keluarga, masyarkat hingga Negara.

Last but not least, kita wajib mendakwahkannya hingga seluruh manusia –Muslim atau non mulim- merasakan rahmatnya. Wallahu a’lam bis showab

Oleh: Wardah Abeedah
 


posted by @Adimin

Islam, Kebhinnekaan, dan NKRI

Written By NeoBee on 23 March, 2017 | 9:59 AM


Mohamad Sohibul Iman, Ph.D

Presiden Partai Keadilan Sejahtera

Ketika umat Islam berjuang membela martabat agamanya karena merasa dinodai oleh ucapan Seorang pejabat publik, tiba-tiba ada sebagian kelompok yang justru menstigmanya sebagai sikap anti-kebhinekaan dan anti-NKRI. Ada anggapan bahwa menghormati kebhinekaan semata-mata diartikan sebagai sikap merayakan perbedaan namun kurang mengindahkan hak-hak setiap warga dalam memeluk dan menjalankan ajaran agama dan keyakinannya sebagaimana telah dijamin dalam konstitusi dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Kebhinekaan akhir-akhir ini terasa direduksi maknanya menjadi semata-mata melindungi hak-hak minoritas tanpa menghormati hak-hak mayoritas. Klaim-klaim sepihak tentang kebhinekaan adalah cara termudah untuk mengasosiakan diri dengan hal tersebut. Tapi yang sulit adalah membuktikannya pada sikap dan perilaku di kehidupan nyata. Kebhinekaan terawat bukan karena klaim-klaim sepihak tetapi karena adanya sikap jujur, terbuka, tanggungjawab, dan berpihak kepada kebenaran dan rasa keadilan masyarakat.

Adanya pemikiran yang mencoba membenturkan antara Islam, Kebhinekaan dan NKRI adalah pemikiran yang berbahaya dan ahistoris. Islam, Kebhinekaan dan NKRI adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Menjadi seorang muslim yang seutuhnya maka secara aksiomatis ia juga menjadi seorang nasionalis dan pluralis seutuhnya. Jika masih ada entitas di Republik ini yang mengatakan bahwa umat Islam tidak nasionalis, anti-kebhinekaan, maka sesungguhnya mereka telah memunggungi takdir sejarah Republik Indonesia.

Bung Karno pernah berpesan kepada bangsa Indonesia bahwa jangan sekali-kali melupakan sejarah. Oleh karena itu, jangan pernah melupakan sejarah panjang perjuangan umat Islam dalam memerdekakan dan membangun Republik ini. Janganlah melupakan jasa besar Kiyai Haji Hasyim Asy’ari bersama umat Nahdhiyin yang menyerukan Resolusi Jihad untuk mengobarkan semangat perlawananan pejuang Surabaya dibawah komando jihad Bung Tomo dalam mempertahankan Kota Pahlawan dari gempuran Imperialis.

Sejarah juga telah mencatat bagaimana Ki Bagus Hadi Kusumo sebagai pucuk pimpinan Muhammadiyah bersama tokoh-tokoh umat Islam lainnya telah berbesar hati mengorbankan aspirasi umat Islam dengan merelakan penghapusan 7 kata dalam Piagam Jakarta dan menggantinya dengan Sila Pertama Pancasila sebagai sikap penghormatan kepada aspirasi Saudara-saudara sebangsanya dari Indonesia bagian timur.

Kita juga harus ingat bagaimana peran diplomat muslim kita, Haji Agus Salim dan AR Baswedan, yang dengan susah payah bergerilya mencari pengakuan kedaulatan kemerdekaan RI dari dunia Internasional. Dengan mengedepankan semangat ukhuwah Islamiyah, mereka berhasil mengantarkan RI mendapatkan pengakuan kedaulatan pertamanya dari negara-negara Islam seperti Mesir, Lebanon, Suriah, Irak, Arab Saudi dan Yaman. Kiprah diplomasi mereka berhasil menyudutkan Belanda di forum PBB dan mengukuhkan kedaulatan RI di mata dunia.

Bahkan jika merujuk pada konsepsi NKRI itu sendiri, secara legal-konstitusional justru terlahir dari kepeloporan dan perjuangan umat Islam di Parlemen yang saat itu disuarakan oleh Mohamad Natsir. Melalui Mosi Integralnya, Natsir mengusulkan kepada Parlemen RI untuk mengganti konsep Negara Republik Indonesia Serikat (NRIS) menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Insiatif Natsir ini akhirnya disambut baik oleh seluruh kekuatan politik di Parlemen saat itu, sehingga konsep NRIS dibubarkan dan sebagai gantinya Indonesia menjadi NKRI.

Modal Sosial Bangsa

Kita telah memahami bersama bahwa kebhinekaan Indonesia merupakan sebuah keajaiban dunia. Kita semua telah merawatnya dengan susah payah. Maka tak sepatutnya kebhinekaan ini dikoyak-koyak oleh kekerasan verbal yang melukai rasa persatuan bangsa.

Semangat menghormati kebhinekaan dan persatuan bangsa adalah modal sosial bangsa yang wajib kita jaga bersama. Semua tindakan yang menodai kebhinekaan oleh siapa pun, apa pun agamanya, apa pun suku bangsanya, apa pun partai dan posisi jabatannya, maka harus diperlakukan yang sama di depan hukum (equality before the law).

Kita harus jaga dan rawat kebhinekaan dan NKRI yang kita cintai ini agar tetap kokoh dan tergoyahkan. Ada tiga modal sosial bangsa yang bisa menjadi penompang hal tersebut.

Pertama, Sense of Belonging yakni rasa saling memiliki sebagai bangsa. Semua harus merasa memiliki NKRI, jangan ada yang tidak merasa memiliki. Di sisi lain, jangan pernah ada yang mengklaim bahwa ia satu-satunya pewaris sah republik ini.

Bangsa ini lahir atas jerih payah dan pengorbanan berbagai komponen bangsa. Dalam benak kita semua harus tertanam kuat bahwa bangsa ini adalah milik semua anak bangsa: dari Sabang hingga Merauke, dari Miangas hingga Pulau Rote. Bangsa ini bukan hanya milik suku dan agama tertentu, tapi merupakan milik semua suku dan agama yang diakui di Indonesia.

Kebhinekaan tercermin ketika kelompok mayoritas mampu mengayomi minoritas, dan disaat yang sama kelompok minoritas juga bisa memposisikan diri mereka dan menghormati kelompok mayoritas. Rasa saling memiliki di antara sesama anak bangsa akan menumbuhkan sinergi dan harmoni, karena kita percaya bahwa sikap dan tindakan setiap anak bangsa dilandasai oleh rasa saling memiliki atas bangsa ini.

Kedua, Sense of Togetherness yakni rasa kebersamaan sebagai sesama anak bangsa yang sama-sama cinta kepada tanah airnya. Bangsa ini sangat majemuk. Bangsa ini terdiri dari belasan ribu pulau, ratusan bahasa daerah, ribuan suku bangsa, beberapa agama dan kepercayaan. Bahkan bukan hanya majemuk, tapi juga terfragmentasi dan tersegmentasi.

Adalah sebuah Sunnatullah bahwa untuk membangun bangsa ini harus dengan menumbuhkan rasa kebersamaan dan saling bekerjasama atau gotong royong. Kita tidak bisa membangun Republik ini sendirian hanya melibatkan golongan dan kelompok tertentu saja tanpa bantuan dan kerjasama dengan berbagai elemen bangsa lainnya. Bangsa ini lahir dan bisa tetap tumbuh berkembang hingga saat ini karena rasa kebersamaan yang terus terjalin.

Dan ketiga adalah Trustworthiness yakni rasa saling percaya diantara seluruh komponen bangsa. Pada tingkat gagasan kita harus saling percaya bahwa semua warga Indonesia memiliki niat baik untuk bangsanya dengan caranya masing-masing. Namun, pada tingkat tindakan kita harus membuktikannya dengan melihat sepak terjang dan perilakunya apakah niat baik itu benar-benar ditunjukkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Jika terbukti ada niat jahat, maka semua wajib mencegah dan menghentikannya.
 
Saya meyakini ketika ketiga modal sosial bangsa tersebut dijalankan secara konsisten dan konsekwen, InsyAllah bangsa dan negara ini akan semakin maju, kokoh dan bermartabat serta dihormati oleh bangsa-bangsa lain di dunia ini

posted by @Adimin

DPC PKS Kuranji Mengadakan Training Orientasi Partai

Written By NeoBee on 20 March, 2017 | 11:05 AM




Pkspadang.com : Untuk lebih menggerakkan mesin dan menggelorakan semangat jihad siyasi maka DPC Kuranji mengadakan TOP (training Orientasi Partai). TOP Kuranji yang dilaksanakan pada hari Ahad 19 Maret 2017 dihadiri oleh kurang lebih 50 orang peserta yang berkomitmen akan berjuang bersama sama PKS DPC Kuranji…..


Dalam TOP tersebut peserta mendapatkan pencerahan kepada peserta TOP tentang pentingnya ummat Islam untuk berperan serta dalam dunia politik yang tentunya bermuara untuk kepentingan ummat juga. Hal tersebut disampaikan oleh, Ust Gufron, SS sebagai Ketua Umum DPD PKS Padang sekaligus sebagai pemateri dalam TOP tersebut. TOP kali ini dihadiri juga oleh Ketua DPC PKS Kuranji yang saat ini diemban oleh Ust Syafriyon beserta jajarannya.

Semoga dengan diadakannya TOP tersebut maka seluruh kader dan pengurus PKS Kuranji semakin menggelora semangat jihadnya…….
 

posted by @Adimin

PKS Sumbar Selenggarakan Rakorwil



pkspadang.com : Untuk menyamakan suhu dan semangat rakornas PKS, maka DPW PKS Sumbar mengadakan rakorwil (rapat Koordinasi Wayah). Program program unggulan DPP yang sudah dirumuskan saat rakornas diturunkan ke DPW dan DPD sesumatera barat dengan memperhatikan dan menyesuaikan situasi dan kondisi yang ada pada masing masing DPD di tiap tiap Kota/kabupaten di Sumatera Barat.

Program program DPD diolah sedemikian rupa berdasarkan IKU (Indikator Kerja Utama) masing masing bidang. Dengan kerja masing masing bidang yang ada yang berdasarkan IKU, maka diharapkan kinerja masing masing bidang bias terarah dan terukur. 

Rakorwil Sumbar di hadiri oleh pengurus Wilda Sumbagsel Ust. Hermanto beserta jajaran pengurus, hadir pula musyrif SUmbar Ust. Syaurium Khatib dan seluruh jajaran DPW Sumatera Barat yang saat ini di komandani oleh Ust Irsyad Syafar. 

Semoga dengan diadakannya Rakorwil Sumbar ini bias lebih menggelorakan dakwah di Sumatera Barat dan di kota/kabupaten yang ada diwialayah sumatera Barat. ALLAHU AKBAR…………….


posted by @Adimin
More on this category »

Popular Post

Gallery

Gallery
 
Support : Creating Web | PKS Padang | Mas Temp
Copyright © 2011. PKS Padang - All Rights Reserved
Template Created by PKS Padang Published by Mas Temp
Proudly powered by Blogger