Latest Post

Ramadhan 11 (15 IBADAH) Oleh Irsyad Syafar Lc., MEd

Written By Sjam Deddy on 21 June, 2017 | 9:55 PM


Ramadhan 11
15 IBADAH
(إياك نعبد)

Oleh : Irsyad Syafar Lc., MEd
 
Dalam menyembah Allah kita menggunakan 3 perangkat utama, yaitu: hati, lisan dan anggota badan. Sementara itu, hukum fiqh dalam Islam ada 5, yaitu: Wajib, sunat, mubah, makruh dan haram.

Maka, ada 15 macam ibadah yang kita lakukan. Ibnul Qayyim menyatakan: "Pusaran ibadah itu ada 15 kaedah. Barang siapa yang menyempurnakannya, maka sempurnalah level ibadahnya.

Ibadah yang 15 itu adalah hasil pengalian dari 3 perangkat ibadah dengan 5 hukum fiqh untuk masing-masingnya. Jadilah totalnya 15 macam.

Maka hati kita, ia punya ibadah wajib kepada Allah, ibadah haram, yang sunat, yang makruh dan yang mubah.

Ibadah wajib dan sunat bagi hati dengan mengamalkannya. Sedangkan ibadah haram dan makruh bagi hati dengan meninggalkannya.

Ibadah wajib bagi hati adalah semua yang wajib dikerjakan oleh hati, karena tempatnya di hati. contohnya: ikhlas, tawakkal, mencintai Allah, takut dan harap kepadaNya.

Semua ibadah tersebut dikatakan wajib karena memang ada perintah Allah untuk itu:

وَقَالَ مُوسَىٰ يَا قَوْمِ إِنْ كُنْتُمْ آمَنْتُمْ بِاللَّهِ فَعَلَيْهِ تَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُسْلِمِينَ.
Artinya: Berkata Musa, "Hai kaumku! Jika kalian beriman kepada Allah, maka bertawakallah kepada-Nya saja jika kalian benar-benar orang-orang yang berserah diri." (QS Yunus: 84).

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ...
Artinya: "Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama...". (QS Albayyinah: 5)

فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ....
Artinya: "....karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman." (QS Ali Imran: 175).

Dan banyak lagi dalil-dalil yang memerintahkan amalan atau ibadah hati. Adapun yang haram bagi hati adalah antara lain: kafir, syirik, sombong, riya, ujub, hasad, nifaq, putus asa, senang dengan kesusahan kaum muslimin dan lain-lain. Bila hati kita menghindari dan bersih dari semua itu, maka hatinya telah beribadah kepada Allah.

Dan hati takkan pernah baik kecuali menjauhinya serta bertaubat segera bila hati terkena salah satu dari perbuatan tersebut.


Sebagian dari dosa-dosa hati ini bisa lebih besar dari pada dosa zina atau minum tuak, yaitu seperti dosa kafir, syirik dan nifaq. Sebagian lagi bisa menghabiskan pahala ibadah seperti hasad dan sombong.

Diantara yang wajib dan yang haram inilah beredar ibadah sunat, makruh dan mubah bagi hati. Seperti bahagia dengan kebaikan, bergembira di hari raya, bersedih saat musibah (tanpa meratap), senang dengan hal-hal yang halal dalam pakaian, makanan dan lain-lain.

Begitu juga dengan lisan, ia juga punya ibadah wajib, sunat, mubah, makruh dan haram. 

Ibadah wajib lisan antara lain adalah: mengucapkan dua kalimat syahadat, membaca bacaan rukun dalam shalat, baik saat berdiri, rukuk, sujud dan duduk, menjawab salam, amar makruf dan nahi munkar, bersaksi secara benar dan adil, dan lain-lain.

Allah berfirman:

وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا...
Artinya: "... dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia..." (QS Albaqarah: 83).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ...
Artinya: "Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil...." (QS Almaidah: 8).

Adapun yang haram bagi lidah adalah: mengucapkan kalimat kufur/murtad, kalimat-kalimat kotor dan porno, menuduh orang lain berbuat dosa besar, menfitnah dan mengadu domba, berbohong, dan lain-lain yang mendatangkan murka Allah dan RasulNya.

Rasulullah saw bersabda:

وإن العبد ليتكلم بالكلمة -من سَخَط الله- لا يُلْقِي لها بالاً، يهوي بها في جهنم.
Artinya: "Seorang hamba yang berbicara dengan satu kalimat yang dimurkai Allah, dia bisa dilemparkan ke jurang neraka selama 70 tahun". (HR Bukhari dan Muslim).

فعن أبي بكرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ( ألا أنبئكم بأكبر الكبائر ؟ ) ، قلنا : بلى يا رسول الله ، قال : ( الإشراك بالله ، وعقوق الوالدين ) ، وكان متكئاً فجلس فقال : ( ألا وقول الزور ، وشهادة الزور ، ألا وقول الزور ، وشهادة الزور ) ، فما زال يقولها حتى قلت لا يسكت " رواه البخاري ( 5631 ) ، ومسلم ( 87 ) .
Artinya: Diriwayatkan dari Abu Bakrah, bhw Rasulullah bersabda: "Maukah kalian aku beritahukan dosa besar yang paling besar?". Para sahabat menjawab, "Iya wahai Rasulullah. Beliau berkata: "Berbuat syirik kepada Allah, durhaka kepada kedua orang tua...". Waktu itu beliau berbaring, maka lalu Beliau duduk dan berkata: "Ketahuilah yaitunya perkataan bohong, dan kesaksian palsu.... kesaksian palsu... (Beliau ulang2). (HR Bukhari dan Muslim).

Diantara yang wajib dan yang haram inilah, ibadah2 sunat, makruh dan mubah bagi lisan. Contoh: tilawah Alquran, berdzikir, mengulang2 ilmu, terlalu banyak bicara, dan lain-lain.

Kemudian ibadah anggota badan, yang meliputi mata, telinga, hidung, tangan, kaki, kulit, dan lain-lain. Masing-masing dari anggota badan itu ada kewajiban kepada Allah, ada yang terlarang, dan ada yang diantara keduanya pada tingkatan sunat dan makruh serta mubah.

Mata wajib melihat mushaf, ayat-ayat Allah, membedakan antara yang halal dengan haram dan sebagainya. Mata haram melihat aurat orang lain, baik laki-laki maupun perempuan, melihat ke lawan jenis dengan syahwat, melihat tulisan orang lain tanpa izin, dan lain-lain.

Telinga wajib mendengar ayat-ayat Allah, mendengar khutbah, adzan, bacaan imam dalam shalat, seruan dakwah dan lain-lain. Sebaliknya telinga haram mendengar kata-kata kotor, nyanyian maksiat, obrolan kekafiran dan lain-lain.

Adapun tangan, wajib baginya menyentuh suami atau istri, menyambut salam, menghentikan kemungkaran yang dibawah tanggung-jawabnya dan lain-lain. Sebaliknya haram baginya menganiaya orang lain, menyentuh yang bukan mahramnya, mencuri, mengisyaratkan kekafiran atau kesyirikan.

Sedangkan kaki, wajib baginya melangkah menuju masjid, menuju shalat jumat, thawaf dan sa'i, menegakkan hukum Allah dan lain-lain. Sebaliknya, haram baginya melangkah ke tempat maksiat dan dosa, menyakiti orang lain, berdiri untuk menyembah berhala dan lain sebagainya.

Begitulah, seluruh diri kita, mulai dari hati, lisan dan sampai ke seluruh anggota tubuh, ikut serta semuanya dalam beribadah kepada Allah.

Wallahu A'laa wa A'lam.

posted by @Adimin

Ramadhan 10 (IBADAH YANG PALING UTAMA) Oleh Irsyad Syafar, Lc., MEd

Ramadhan 10
IBADAH YANG PALING UTAMA
(إياك نعبد)
Oleh : Irsyad Syafar, Lc., MEd
 
Kita tentunya ingin semaksimal mungkin beribadah kepada Allah. Akan tetapi kita juga punya keterbatasan. Baik dari segi waktu, tenaga, kemampuan dan sebagainya. Takkan mampu kita untuk mengambil semua ibadah.

Pilihan kita kemudian tentunya mencari dan mengerjakan ibadah-ibadah yang utama saja. Para sahabat Rasul yang mulia pun mereka sering bertanya tentang mana ibadah yang paling utama, diantaranya:

• عن أبي هريرة قال: سئل رسول الله صلى الله عليه وسلم: أي الأعمال أفضل؟ قال: ((إيمانٌ بالله))، قال: ثم ماذا؟ قال: ((الجهاد في سبيل الله))، قال: ثم ماذا؟ قال: ((حج مبرورٌ)).
Artinya: Diriwayatkan dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah ditanya tentang amalan yang paling utama? Beliau menjawab, "Iman kepada Allah". Orang itu bertanya lagi, "Lalu apa?". Rasulullah menjawab, "Berjihad di jalan Allah". Orang itu bertanya lagi, "Lalu apa lagi?". Rasulullah menjawab, "Haji yang mabrur". (HR Bukhari dan Muslim).

Hadits tentang pertanyaan seperti ini lebih dari satu. Menunjukkan bahwa para sahabat juga berambisi mencari ibadah-ibadah terbaik.

Dalam menentukan ibadah atau amalan terbaik, ada 4 macam pendapat atau pendekatan yang menjadi acuan.

Pendapat pertama, menyatakan bahwa ibadah yang paling utama adalah ibadah yang paling berat di hati. Alasannya, ibadah seperti itu sangat jauh dari hawa nafsu. Dan itulah hakekat utama dari penghambaan diri. 

Pendapat pertama ini berdasarkan kepada sebuah kaedah yang bukan hadits: الإجر على قدر المشقة "Pahala sesuai tingkat kesulitan". Kaedah ini tidak sepenuhnya benar. Sebab, kesulitan bukanlah tujuan dari syariat Islam.

Namun bisa juga kita contohkan dalam kehidupan yang sederhana. Misalnya orang miskin yang berinfaq bisa lebih banyak pahalanya dari orang kaya yang berinfaq. Orang yang ke masjid berjalan kaki bisa lebih banyak pahalanya dari pada yang berkendaraan.

Kedua, pendapat yang menyatakan bahwa acuan ibadah yang paling utama adalah totalitas, zuhud dari dunia dan menguranginya semaksimal mungkin.

Pendapat ini berlandaskan kepada dalil-dalil yang menunjukkan keutamaan Akhirat terhadap dunia. Allah ta'alaa berfirman:

وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ.
Artinya: "Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal." (QS Al a'laa: 17)

Dalam ayat lain:
وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الْأُولَىٰ
Artinya: "Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan)." (QS Adh Dhuha: 4).

Dengan dalil-dalil di atas maka ibadah dan amalan akhirat menjadi paling utama dibandingkan dengan amalan dunia. Sehingga, hati hanya terpaut dengan akhirat. Sebagian malah menganggap bahwa zuhud terhadap dunia lebih utama dari menuntut ilmu dan ibadah lainnya. Namun pendapat kedua ini belum sepenuhnya tepat.

Pendapat ketiga, menyatakan bahwa ibadah yang paling utama adalah yang paling luas manfaatnya atau paling banyak faedahnya. Tidak sekedar dinikmati oleh pelakunya saja, akan tetapi menyentuh banyak orang. 

Maka mengayomi faqir miskin, mendidik dan mengajarkan ilmu kepada banyak orang, membuatkan jalan dan kubutuhan serta kepentingan umum, adalah ibadah yang paling utama.

Pendapat ini berlandaskan kepada beberapa dalil yang mengisyaratkan makna tersebut. Diantaranya dari sabda Rasulullah saw:

عن عبدالله بن عمر رضي الله عنه، أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : (أحب الناس إلى الله أنفعهم للناس وأحب الأعمال إلى الله سرور تدخله على مسلم أو تكشف عنه كربة أو تقضي عنه دينا أو تطرد عنه جوعا. ولأن أمشي مع أخي المسلم في حاجة أحب إلى من أن أعتكف فى هذا المسجد شهرا. ومن كف غضبه ستر الله عورته ومن كظم غيظه ولو شاء أن يمضيه أمضاه ملأ الله قلبه رضا يوم القيامة. ومن مشى مع أخيه المسلم فى حاجة حتى تتهيأ له أثبت الله قدمه يوم تزل الأقدام. وإن سوء الخلق ليفسد العمل كما يفسد الخل العسل). أخرجه ابن أبى الدنيا فى كتاب قضاء الحوائج (ص 47، رقم 36) وحسنه الألباني).
Artinya: Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr, bahwa Raaulullah bersabda: "Manusia yang paling Allah cintai adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Dan amalan yang paling utama adalah kebahagian yang anda masukan ke dalam hati muslim lain, atau anda tuntaskan kesulitannya, atau anda bayarkan hutangnya, atau anda hilangkan laparnya. Aku lebih suka berjalan mengantarkan saudaraku muslim menuju kebutuhannya dari pada aku beri'tikaf di masjid ini (masjid nabawi) selama sebulan. Barang siapa yang menahan kemarahannya niscaya Allah akan menutupi auratnya. Dan barang siapa yang menekan emosinya padahal dia sanggup untuk melampiaskannya, niscaya Allah akan penuhkan hatinya dengan keredhaan pada hari kiamat. Barang siapa yang berjalan bersama saudaranya muslim menuju kebutuhannya sampai selesai, niscaya Allah akan kokohkan kakinya pada hari tergelincirnya banyak kaki (hari kiamat). Dan seaungguhnya akhlak yang buruk akan merusak amalan sebagaimana cuka bisa merusak madu." (HR Ibnu Abi Ad Dunya, dihasankan Albany).

Hadits di atas menyebutkan secara jelas pujian Allah dan pahala yang besar untuk amalan yang memberi manfaat luas bagi orang lain. Bahkan bisa mengalahkan pahala iktikaf di Masjid Nabawi sebulan penuh.

Masih banyak lagi dalil lain yang menyebutkan keutamaan orang alim dari pada ahli ibadah bagaikan keutamaan bulan purnama terhadap bintang-bintang, keutamaan menunjuki orang lain ke jalan yang benar, keutamaan berdakwah dan lain-lain. Intinya ibadah-ibadah tersebut mempunyai manfaat yang lebih luas.

Pendapat keempat, menyatakan bahwa ibadah yang paling utama adalah ibadah yang paling Allah redhai sesuai tuntutan waktu dan momen seketika itu.

Misalnya, disaat datang seruan adzan, maka ibadah yang paling utama adalah menyambut seruan itu dan bersegera ke masjid, tinggalkan segala urusan yanh lain. Di saat ada orang miskin yang meminta pertolongan dan bantuan, maka ibadah yang paling utama saat itu adalah menolong orang tersebut. Di saat kedatangan tamu, maka ibadah yang paling afdal adalah menghormati tamu, bukan shalat sunat. Dikala sepertiga malam terakhir ibadah yang paling utama adalah bermunajat, bertaubat dan memohon ampun kepada Allah. Ketika datang seruan jihad yang sangat mendesak maka ibadah terbaik adalah berangkat berjuang ke medan jihad. Di saat wukuf di arafah maka ibadah terbaik adalah bersungguh-sungguh dengan doa dan dzikir.

Begitulah seterusnya, standar ke empat ini betul-betul betul-betul mengacu kepada keredhaan dan pilihan Allah yang menjadi acuan. Bukan pilihan-pilihan hamba.

Pada ramadhan yang mulia ini, tentunya ibadah yang paling utama adalah shiyam di siang harinya dan qiyam di malam harinya. Dan bila 10 hari terakhir ramadhan telah datang, maka iktikaf di masjid menjadi ibadah yang paling utama dan mulia.

Imam Ibnul Qayyim menyatakan, "Ibadah kriteria ke empat inilah yang ibadah mutlak. Sedangkan yang sebelumnya masih terkait dengan yang lain."
Dan hamba yang mengamalkan ibadah dengan acuan yang ke empat ini, "dialah yang sebenarnya hamba. Yang beramal tidak berdasarkan kehendak pribadinya, atau kesenangan dirinya, melainkan sesuai kehendak Rabbnya walaupun bertentangan dengan keinginannya".

posted by @Adimin

- - - - - - - - - Ramadhan 9 - CINTA DAN TUNDUK - - - - - - - - - -

Written By Sjam Deddy on 16 June, 2017 | 11:32 AM

Ramadhan 9
CINTA DAN TUNDUK
(إياك نعبد)

Imam Ibnul Qayyim Aljauziyah menyebutkan bahwa "ibadah" yang sempurna itu harus menggabungkan dua hal sekaligus secara bersamaan. Yang pertama adalah cinta dan yang kedua adalah tunduk.

Artinya, kita belum menjadi hamba Allah yang benar kecuali kita telah beribadah dengan penuh cinta dan penuh ketundukan kepada Allah.

Ibnul Qayyim berkata, "Bila engkau mencintai Allah tapi engkau tidak tunduk kepadaNya, maka engkau bukanlah hambaNya. Jika engkau tunduk kepadaNya tapi engkau tidak mencintaiNya, maka engkau bukanlah hambaNya. Engkau baru seorang hamba yang benar bila mencintaiNya dan tunduk kepadaNya". (Madaariju As Salikin).

Bila seseorang beribadah karena senang, tapi dia tidak patuh dengan aturan Allah, maka dia belum beribadah dengan benar dan belum menjadi hamba yang benar. Dia hanya sedang melakukan hobby atau kesukaannya. Ini biasanya terjadi dalam hal ibadah-ibadah yang menyenangkan. Seperti ibadah haji, umrah dan lain-lain.

Sebaliknya bila seseorang tunduk beribadah kepada Allah, tapi dia tidak senang dan mencintai Allah, maka dia sedang terpaksa. Tidak tulus dan tidak ikhlas. Manusia saja tidak suka dengan orang yang bekerja terpaksa. Apalagi Allah yang Maha Mulia.

Dalil-dalil yang menunjukkan perintah mencintai dan juga tunduk kepada Allah sangat banyak di dalam Al quran dan hadits Rasulullah saw.

Allah menegaskan bahwa orang yang beriman itu tandanya adalah dia sangat amat cinta kepada Allah. Sedangkan orang kafir mencintai tuhan-tuhan lain selain Allah:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ ۗ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ
Artinya: "Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal)." (QS Al baqarah: 165).

Dalam ayat lain, Allah memuji orang yang beriman, generasi pilihan, yang karakternya adalah mencintai Allah dan Allah mencintai mereka:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ...
Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kalian yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela...." (QS Al maidah: 54).

Rasulullah saw menyatakan bahwa kesempurnaan iman itu terletak pada cinta kepada Allah dan RasulNya:

"ثلاث من كن فيه وجد بهن حلاوة الإيمان، من كان الله ورسوله أحب إليه مما سواهما، وأن يحب المرء لا يحبه إلاَّ لله، وأن يكره أن يعود في الكفر بعد أذ أنقذه الله منه كما يكره أن يقذف في النار".
Artinya: "Tiga hal yg apabila dimiliki oleh seseorang niscaya dia akan merasakan manisnya iman. Yaitu orang paling mencintai Allah dan RasulNya melebihi selain keduanya. Dan orang yg mencintai orang lain karena Allah. Dan orang yang tidak mau kembali kepada kekufuran sebagaimana dia tidak rela dilemparkan ke dalam api neraka". (HR Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik).

Dalam hal ketundukan dan kepatuhan, Allah ta'alaa menegaskan perintahNya dengan sangat jelas :

قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ ۖ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ.
Artinya: Katakanlah: "Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir". (QS Ali Imran: 32).

Allah juga menegaskan bahwa orang yang engkar (tidak patuh) kepadaNya, melanggar batas-batas hukumNya, akan dimasukkan ke dalam neraka yang abadi:

وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُّهِينٌ (14)
Artinya: "Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan." (QS An nisa: 14).

Dengan demikian, kesempurnaan ibadah akan terwujud bila dikerjakan dengan cinta serta tunduk kepada Allah.
 

Oleh : Irsyad Syafar, Lc., Med

posted by @Adimin

- - - - - - - - - Ramadhan 8 - MENIKMATI IBADAH - - - - - - - - -




Ramadhan 8

MENIKMATI IBADAH
(إياك نعبد)

Adalah berbeda antara orang yang menikmati ibadah dengan yang mengerjakan ibadah. Setiap orang yang menikmati ibadah, pasti mengerjakannya. Sebaliknya tidak semua yang mengerjakan ibadah menikmatinya.

Bila seseorang menikmati sesuatu, maka dia akan senang bersamanya. Hatinya tenteram dan ingin berlama-lama dengan sesuatu itu. Bila dia sedang bersamanya, maka waktu tak terasa berlalu. Dan bila sudah berpisah dengannya, dia akan rindu untuk bertemu kembali.

Sedangkan orang yang mengerjakan sesuatu, biasanya ingin segera selesai dari sesuatu tersebut. Bila cepat selesainya maka akan lebih baik. Dan cendrung pekerjaan itu menjadi beban baginya.

Bagitu pula dalam beribadah. Orang yang beriman menikmati ibadah, bukan sekedar mengerjakannya. Ada kenyamanan dan ketenangan yang dirasakan saat melakukannya. Betah dan rela berlama-lama bersama ibadah tersebut.

Rasulullah saw menyatakan bahwa shalat adalah penyejuk matanya (qurratu ainin). Beliau bersabda:

و جعلت قرة عيني في الصلاة. أخرجه أحمد والنسائي والحاكم والبيهقي عن أبي هريرة.
Artinya: "Dijadikan kecintaanku pada shalat". (HR. Ahmad, Nasa'i Baihaqi, Hakim, shahih Albany).

Maksud dari hadits di atas adalah Rasulullah saw sangat mencintai shalat. Hatinya tenang dan tenteram dengan ibadah shalat tersebut. Bila ada beban yang berat, justru Rasulullah saw meringankannya dengan shalat. Beliau pernah bersabda kepada Bilal bin Rabah memerintahkannya untuk adzah: "Berdirilah wahai Bilal! (maksudnya untuk adzan), rehatkan kami dengan shalat". (HR Abu Daud).

Sehingga dengan shalat tubuh mereka menjadi dapat rehat dan kembali segar. Kebanyakan kita berkata sebaliknya, "Ayolah kita segera shalat, setelah itu kita istirahat...."

Begitu juga para sahabat dan orang-orang shaleh. Mereka menikmati ibadah, sehingga mereka berlomba-lomba melakukannya. Beribadah bagi mereka bukanlah rutinitas belaka, bukan pula beban yang menghimpit apalagi sekedar hutang yang wajib dibayar.

Diceritakan dalam hadits shahih riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, bahwa serombongan kaum fuqara' dari para sahabat mengadukan kepada Rasulullah saw, betapa beruntungnya orang-orang kaya. Mereka shalat dan puasa, sama seperti orang miskin. Tapi mereka bisa berhaji, berumrah, berjihad dan besedekah, karena harta yang mereka miliki.

Lalu, Rasulullah saw menunjukkan amalan yang bisa menyamai pahala semua amalan tersebut, yaitu bertasbih 33x, bertahmid 33x dan bertakbir 34x setiap selesai shalat. Maka senanglah kaum miskin mendengarkan ibadah penyeimbang ini. Mereka pun pulang dan bisa beribadah juga lebih banyak.

Namun tidak lama setelah itu, kaum fuqara ini kembali lagi kepada Rasulullah saw. Mereka kembali mengadu, bahwa hadits kemaren "bocor" pula kepada orang-orang kaya. Maka mereka amalkan pula. Akhirnya Rasulullah saw mengomentari: "Itulah karunia Allah yang Dia bagikan kepada orang2 yang Dia kehendaki".

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, kenapa orang-orang shaleh bisa menikmati ibadahnya? Sehingga mereka betah bahkan berlomba mengamalkannya? Dan tidak sekedar "mengerjakan" ibadah saja? Jawabannya kita temukan dari petunjuk Rasulullah saw yang bersabda:

عَنِ الْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ رضي الله عنه أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: «ذَاقَ طَعْمَ الإِيمَانِ، مَنْ رَضِيَ بِالله رَبًّا، وَبِالإِسْلامَ دِيناً، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولاً». رواه مسلم.
Artinya: Dari Abbas bin Abdul Muthalib, dia mendengar Rasulullah saw bersabda: "Yang merasakan nikmatnya iman adalah orang yang redha Allah menjadi Tuhannya, Islam menjadi agamanya dan Muhammad sebagai Rasulnya". (HR Muslim).

Maka orang yang telah meredhai Allah yang wajib dia sembah dan agungkan, meredhai bahwa ajaran Islam sebagai agama yang wajib dia amalkan, serta redha Nabi Muhammad adalah Rasul yang wajib diikuti ajarannya, pasti akan merasakan nikmatnya beribadah.

Baginya, semua ibadah adalah konsekwensi atas ketundukannya kepada Allah dan ajaranNya, bukti penghambaan kepadaNya serta keselamatan hidupnya di dunia dan akhirat.

Dalam hadits lain Rasulullah saw menjelaskan bahwa seseorang akan merasakan manisnya iman bila dia memiliki tiga hal: pertama, Allah dan RasulNya paling dia cintai. Kedua dia mencintai orang lain karena Allah. Dan yang ketiga dia tidak suka jatuh kembali kepada dosa, sebagaimana dia tidak suka kalau dilemparkan ke dalam api neraka. (dari HR Bukhari Muslim riwayat Anas bin Malik).

Pada bulan ramadhan ini, kembali berbagai ibadah semarak dilakukan umat Islam. Shalat berjamah, puasa wajib, shalat-shalat sunnat, tahajud atau qiyamullail, bersedekah, tilawah Al Quran dan lain-lain. Kita mesti naik kelas dari sekedar mengerjakan ibadah menuju kepada menikmati ibadah.

Tentunya syarat-syarat yang dijelaskan Rasulullah saw di atas perlu dipenuhi. Agar semua rangkaian ibadah tersebut betul-betul dinikmati, bukan sekedar dikerjakan sebagai rutinitas. Akibatnya selepas Ramadhan tidak menimbulkan pengaruh dan perubahan yang signifikan ke arah kebaikan.


Oleh : Irsyad Syafar

posted by @Adimin
More on this category »

Popular Post

Gallery

Gallery
 
Support : Creating Web | PKS Padang | Mas Temp
Copyright © 2011. PKS Padang - All Rights Reserved
Template Created by PKS Padang Published by Mas Temp
Proudly powered by Blogger